Catatan Lepas dari BatamPos

Belakangan ini saya cukup disibukan dengan urusan yang tidak menentu, dari penjaringan calon walikota dari koalisi gabungan partai sampai dengan pengkaderan adik-adik almamater tingkat atas dinegeri segantang lada yang pernah menjadi tempat saya berbangku dan memeras otak. Dan semestinya ada urusan yang penting perihal Pemilihan Walikota pun udah mulai lelah saya mau ngurus, pikiran saya sih coba curi-curi waktu untuk santai dulu ah...

Iseng-iseng saya coba baca batampos online karena terasa banyak sekali informasi yang ketinggalan, eh-eh pas pula ada judul dari catatan lepas oleh Candra Ibrahim dengan tema loyalitas Suryatati, saya sempatkan diri untuk membacanya, menimbang judulnya cukup unik.

Tentu kupasan yang diberikan bung Candra cukup menarik terhadap sosok calon incumbant yang akan duduk kembali di kursi hak miliknya. Banyak hal yang perlu disimak dari perilaku beberapa partai yang berkoalisi mengusung sosok satu ini. Walau merasa mangkir dari si incumbant tapi tetap saja mengusung sosok yang tidak patuh pada aturan main...

Sebenarnya ada apa dibalik kenakalan seorang incumbant ini, dan apa bener dengan mengusung sosok ini akan membawa perubahan terhadap sistem yang telah tercipta belasan tahun yang tergolong tidak populer?

Dari sisi pemilih mungkin ada yang beranggapan seperti ini, pangsa pasar sosok ini mudah dijual hal ini menjadi mungkin dan sangat berpotensi kepada sosok itu. Survey yang pernah saya lakukan kurang lebih ya tidak jauh dari pada nilai anggaran yang selalu kucur dari kantong ke kantong, rekening ke rekening yang telah menjadi penghidupan bagi segelintir manusia yang masuk dalam lingkaran setan yang tidak terlepas dari hal-hal yang seharusnya tidak terjadi.

Kemudian setelah menelaah saya pun berpikir hal ini akan menjadi persoalan berat buat bangsa Indonesia dalam hal yang sangat prinsipil yaitu berbangsa dan bernegara, karena terindikasi budaya kolusi sudah tidak lagi mampu untuk diberangus dari muka bumi Indonesia, so what gitu loh, sebuah proses yang sudah mendarah daging emang bakal repot untuk dilepas bahkan operasi akan terasa sakit.

Namun tidak pula hal itu menjadi tantangan untuk dijawab ada satu tulisan yang kebetulan perlu disimak dengan tema Pasien KPK dari Daerah, tidak pula ada maksud apa-apa dikutipan ini namun tidak menutup kemungkinan semua yang bermasalah wajib menerima konsekuensi dalam segala tindakan yang pernah baik itu kolusi ataupun korupsi.

Ya terjawab kalo petugas KPK tidak seperti yang pernah saya dengar adanya oknum kejaksaan dan Depdagri yang mudah menerima uang aja. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang masih mengadopsi Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam konteks yang perlu diperjelas "salah tetap salah - bener tetap bener" dan tidak pula diplesetin menjadi "salah dibenerkan - bener dikambing hitamkan".

Mengingat dan menimbang saya bukan siapa-siapa dibumi ini, mending saya sumbangkan pemikiran saya di sekolah dimana telah menjadikan jati diri saya sampai hari ini, dan rasa-rasa untuk tenaga dan pikiran itu sah jauh dari cukup... Merubah ya dari akar... yang bangkotan ya susah untuk dipoles, bopeng ya tetap bopeng...

0 comments: